Pindul-low

Alkisah, Panembahan Senopati menyuruh abdinya untuk membuang bayinya. Sebelum membuang, sang utusan memandikan bayi itu di goa ini. Tanpa disengaja, pipi sang bayi kebendul (terbentur) batu-batuan. 

Banyumoto

Inilah asal-usul nama goa Pindul yang ada di dusun Gelaran, desa Bejiharjo, kecematan Karangmojo, Gunungkidul. Dari dalam goa ini mengalir sungai bawah tanah. Airnya yang jernih, ditampung di sebuah dam Banyumoto, kemudian terjun ke bawah, masuk goa dan mengalir ke dalam tanah lagi.

Banyumoto2-low

Rawajombor-bw

Lokasi: Rawa Jombor, Klaten

Jago-3-low

Gowes

Bulan lalu, jalan depan rumah diperkeras dengan beton oleh proyek PNPM Mandiri. Sebagian besar dananya dari pemerintah namun warga tetap dimintai iuran sebagai dana swadaya. Pada saat bersamaan, sebuah bank membangun gudang di mulut gang. Truk pengangkut material lewat jalan yang baru saja dibuat. Hal ini berpotensi merusak jalan yang belum mengeras sempurna itu. Sebagai kompensasinya, warga meminta agar pihak bank ikut memberikan iuran. Namun pihak bank menolak. Akibatnya warga terpaksa memasang penghalang mobil agar tidak bisa masuk ke jalan baru.

Hikmahnya, jalan depan rumah kami menjadi agak sepi. Dengan demikian, Kirana (anak kami) bisa latihan menggowes di depan rumah dengan aman.


 

Meski urung diresmikan oleh bupati Klaten, namun ratusan orang tetap antusias memadati ruas jalan Pemuda menikmati Hari Bebas Kendaraan atau Car Free Day, Minggu, 29 April. Ada berbagai aktivitas warga berlangsung sepanjang jalan utama kota Klaten itu, yang  dibagi menjadi tiga segmen, yaitu perekonomian, olahraga dan pendidikan. 

Sejak pukul 5 pagi, panitia sudah menutup jalan mulai dari simpang lima plaza Klaten hingga tugu Adipura. Menjelang pukul enam, aktivitas warga mulai menggeliat. Mereka berbondong-bondong berjalan kaki bersama keluarga. Banyak juga yang menggowes. Beberapa perkumpulan sepeda juga asyik wara-wiri.

Di depan plasa Klaten, digelar senam aerobik dan latihan bela diri. Aneka kuliner dijajakan di sekeliling alun-alun Klaten. Sementara itu di depan toko Laris, puluhan orang mengerumuni pertunjukan live music. Mobil esemka yang sempat meroket namanya juga ikut nongkrong di depan bank BRI. Sementara di ujung selatan, anak-anak TK asyik mewarnai.

Sambutan masyarakat cukup antusias, namun sayangnya, panitia tampak belum siap. Belum banyak stand yang digelar untuk meramaikan acara ini. Jarak antara stand yang satu dengan stand yang lain berjauhan sehingga kurang meriah. Semoga minggu depan sudah lebih baik lagi.

Banyumoto2-low

Roi-rawajombor
Lokasi: Rawa Jombor Klaten

Oya-low

Banyumoto

Low-mesjid-prambanan2

Low-csc_0890_1_2_fused

Gunungkidul terkenal dengan jalannya yang mulus beraspal hotmix, bahkan sampai pelosok desa. Ini yang saya buktikan sendiri pada hari Selasa, 24 April 2012. Dengan sepedamotor saya menyusuri jalan dari Ngawen menuju Jurangjero, kemudian menuruni bukit kapur yang curam. Sepanjang jalan sekitar 5 km itu, jalan sudah diaspal sehingga memudahkan kendaraan yang akan melintas. Dengan adanya pembangunan jalan ini, maka jarak tempuh antara Klaten dan Gunungkidul dapat dipersingkat. Sebelumnya, orang harus mengambil jalan memutar melewati Sambeng, lalu turun ke Bulu.


Csc_0877

Dipotret Selasa, 24 April 2012

Jago2-low

 

"Jauh dari ratu, dekat dengan batu." Itulah deskripsi orang Gunungkidul tentang kampung halamannya.Sebagai wilayah terluas di DIY, Gunungkidul memang berjarak paling jauh dengan pusat kebudayaan Jawa yaitu kraton Yogyakarta. Wilayah ini juga memiliki bentang alam yang khas, yaitu didominasi pegunungan karst atau kapur sehingga justru menjadi keunggulannya. Salah satunya adalah air terjun Sri Getuk ini. Air yang berasal dari tiga sumber air,yaitu  air Dung Poh, Ngandong dan Ngumbul menyembur deras dari tebing kapur setinggi 80 meter. Titik-titik air menerpa bebatuan putih, kemudian mengalir menuju sungai Oya, yang menjadi sungai terpanjang di Gunungkidul. Wisatawan dapat bermain air pada air terjun kecil di bagian bawah. Atau kalau punya nyali, wisatawan dapat mendaki untuk menadahi terpaan air yang terjun bebas dari atas. 

 

Asal-usul Nama

Suara air terjun yang bergemuruh menciptakan mitos di kalangan warga desa. Pada zaman dahulu jika malam menjelang, maka suasana desa menjadi sepi. Lalu dDari kejauhan, penduduk kampung sayup-sayup mendengar suara gamelan yang arahnya dari air terjun ini. Namun ketika didatangi, suara ini menghilang. Warga percaya bahwa gamelan itu berasal dari gamelan yang ditabuh oleh jin seniman  yang dipimpin oleh Angga Mandura. Salah satu gamelan yang bernama "Kethuk" disimpan di air terjun ini. Kethuk adalah salah satu instrumen musik yang mirip bonang, tetapi berukuran lebih besar. Maka dari kepercayaan ini, terciptalah nama "Sri Kethuk." Kata "Sri" adalah kata sandang dalam bahasa Jawa untuk sebagai gelar kehormatan. 

Warga desa juga menamainya air terjun "Slempret" karena gemuruhnya mirip dengan bunyi "slompret" atau terompet.

 

Dua jalur

Untuk mencapai air terjun ada dua plihan. Setelah membayar tiket masuk Rp. 3000,-/orang dan tiket parkir mobil Rp. 5000,- maka kita bisa memilih menyusuri jalan darat atau lewat air. Masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Jika memilih berjalan kaki, maka Anda memilih jalur ke kanan, lalu berjalan menyusuri jalan desa dan pematang sawah yang asri. Di jalur ini, Anda bisa mampir ke goa karst Rancang Kencana. Jika punya banyak waktu, Anda bisa juga menunjungi goa yang lain yaitu Ngledok, Dlingsem, Dilem, Song Ngoya, Tunting dan Jati Udeng. Jika memilih jalur ini, sebaiknya Anda memiliki stamina yang bagus.

 

Pilihan kedua adalah lewat air. Ambil jalan lurus sekitar 1 km kemudian belok kanan sepanjang 2 km. Anda harus melewati jalan terjal berbatu. Kendaraan Anda akan bergoncang-goncang karena terantuk batu. Setelah memarkirkan kendaraan, Anda berjalan turun  sejauh 300 meter menuju dermaga di pinggir ke sungai. Beli tiket dulu senilai Rp. 7500,- (dewasa) dan Rp. 3000,- (anak-anak. Selanjutnya kita boleh menunggangi kapal ponton mengarungi sungai Oya, sepanjang sekitar 500 meter. Jangan lupa untuk menikmati pemandangan indah di pada tebing-tebing yang menjulang tinggi di pinggir sungai.  Bekas aliran air menciptakan guratan-guratan unik pada batu-batu tebing. Perahu ponton akan merapat ke tebing di sebelah kanan sehingga penumpang bisa segera bermain air. Sebaiknya Anda berhati-hati karena batu-batu sungai tersebut licin akibat berlumut dan basah. Istri saya yang menggendong anak kedua kami berusia 8 bulan sempat terpeleset dan tangannya terantuk pada batu. Puji Tuhan, anak kami tidak terantuk batu.

 

 

Ancar-ancar

Ada banyak papan penunjuk ke air terjun ini. Sepanjang Anda bisa membaca, maka Anda tidak akan tersesat. Anda juga bisa bertanya kepada warga setempat yang dengan ramah akan memberikan panduan. Dari Yogyakarta, arahnya adalah ke Wonosari. Namun begitu sampai di lampu merah Gading (30 km sebelum Wonosari), belok ke kanan ke arah Playen. Begitu sampai ibukota kecamatan Playen, pilih jalur menuju Paliyan namun mulai pasang mata waspada. Sekitar 1 km, begitu menemukan papan penunjuk ke arah air terjun Sri Gethuk, Anda belok ke kanan. Anda masih harus menempuh perjalanan sekitar 8 km, kemudian memasuki jalan aspal yang rusak parah. Begitu masuk areal perhutani, Anda bisa menghela nafas sejenak karena jalan kembali mulus. Begitu juga ketika masuk dusun Menggoran. Namun setelah itu bersiaplah digoncang-goncang oleh jalan berbatu hingga sampai di lokasi wisata.

 

Tips

Berikut tips yang bermanfaat jika Anda ingin mencoba kesegaran air terjun Sri Getuk:

1. Bawa ganti baju. Buat apa Anda ke sana kalau tidak basah-basahan. Siapkan juga tas plastik untuk mewadahi baju basah.

2. Gunakan sandal atau sepatu anti slip. Batu-batu di sekitar air terjun ada yang licin. 

3. Gunakan mobil dengan kabin yang tinggi, misalnya sejenis SUV atau MPV. Kalau pergi berombongan, jangan sewa bis besar. Maksimal bis ukuran 3/4 supaya bisa masuk ke lokasi.

4. Bawa plastik untuk membungkus alat elektronik Anda.

 

Saran untuk pemerintah

1. Karena pengunjung semakin ramai, hendaknya pemerintah mengaspal dan memperlebar jalan ke lokasi wisata. Hal ini akan menggairahkan perekonomian setempat.

2. Belum ada kios yang menjual oleh-oleh dan suvenir. Pengelola bisa membuka kios yang menjual jajanan khas Gunungkidul seperti gathot dan tiwul.

3. Pengelola wisata sebaiknya mengasuransikan pengunjung wisata. Jika terjadi kecelakaan, maka pihak asuransi akan menanggung biaya yang tombul akibat kecelakan itu.

4. Pengelola wisata sebaiknya memikirkan cara untuk meminimalkan kemungkinan pengunjung jatuh terpeleset. Namun sebaiknya cara ini tidak mengganggu keaslian alam.

5. Hendaknya pengelola juga menyediakan toilet yang cukup bersih. Kemarin saya melihat ada dua wisatawan asing yang kebingungan mencari toliet. Toliet yang sudah ada adalah buatan pemilik warung dengan papan penutup seadanya.

6. Di sebelah atas kolam pemancingan milik perhutani, sedang ada aktivitas alat berat yang memecah batu-batu di bukit kapur. Pemandangan ini kontras dengan lokasi wisata air terjun. Di satu sisi, orang datang ke sana untuk mengagumi keaslian alam, tapi sebelum masuk disuguhi oleh aktivitas yang mengusik alam. Apakah proyek itu sudah mengantongi Amdal dan tidak merusak alam?

-

 

Koordinat GPS: S7°56'36" E110°29'21"

Video

 

Video Sri Getuk [1] Video Sri Getuk [2]

Holobis2-low

Ini adalah lagu mars yang dinyanyikan orang Jawa kalau sedang bergotong royong. Tidak jelas asal-usul lagu ini. Dari segi makna kata, "Kuntul" itu burung bangau. Sedangkan kata holopis, tidak begitu jelas maknanya. Barangkali bentukan kata baru agar punya rima dengan "baris."

Ada juga yang melemparkan teori bahwa ungkapan ini adalah serapan dari bahasa asing.   Konon pada sekitar abad ke-16, kapal milik VOC berlabuh di Tuban dan pada saat bongkar muatan, salah satu awak kapalnya berteriak “HELP, IETS ONTILBAARS” (Tolong, ada barang yang tidak terangkat!), dan satu kapal saling bantu untuk mengangkat barang yang terlupa tadi. Nah, orang Jawa yang mendengar kalimat itu dan melihat kelakuan para ABK VOC ini memelesetkan kalimat tersebut, karena lidah Jawa yang terkenal kaku hingga menjadi ‘HOLOPIS KUNTUL BARIS'

Holobis-low

 

 

Capung-low

Kupu3-low

Ulat2-low

Capung2-low

Pohon-di-tepi-sungai

 

“ALANGKAH bahagianya orang 

yang bersukacita dalam mengerjakan

segala sesuatu yang dikehendaki Allah

dari mereka dan yang siang malam 

merenungkan hukum-hukum-Nya. 

Mereka seperti pohon di tepi sungai 

yang selalu berbuah lebat pada musimnya 

dan yang daun-daunnya tidak akan pernah layu. 

Apa pun yang mereka lakukan akan berhasil.” 

(Mzm 1:1-3 FAYH)

 

Bunga

 

 

Kumbang2-low